Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

19. Untuk yang Disayang

Untuk y ang Disayang Jika kutinggal kau mengembara Haruslah kau tahu... ragaku yang pergi Kalau nanti di negeri sana... Aku dirajam, ditikam, dipenjara, digeletakkan t anpa arti... Haruslah kau tahu... itu cuma derita raga Sampai mati jiwaku memelukmu Sampai kuburpun kau rinduku Sampai raga ini busuk , tetap merah darahku! Putih tulangku! Jakarta, 14 Juni 2017

18. Melebihi Pelangi

Melebihi Pelangi Bukan kopi, bukan rokok, bukan roti bakar, bukan lampu remang, juga bukan hujan... Tak pantas kenanganku seharga kopi, rokok, atau roti bakar Tak juga pantas disamakan lampu remang atau hujan yang merepotkan Kenanganku melebihi pelangi yang manja Mesti digandeng hujan ‘tuk diantar ke antara awan Kenanganku melebihi pelangi Ia jemput aku di tiap nafasku Ia peluk aku dalam sunyiku Jakarta, 13 Juni 2017

17. Nama

Nama Aku bukan aku karena namaku Karena aku adalah aku, itulah namaku Jakarta, 13 Juni 2017

16. Rindu

Rindu Ada lukisan tua dalam rumahku Jika rumahku umurnya 23 tahun Lukisan itu melebihi umur leluhurku Di dalam lukisan itu ada sungai bening Awan dan langit terpantul dari sana Pepohonan mengelilingi sungai Segala jenis binatang meramaikan taman itu Siapa pencipta lukisan ini... Apa maksud lukisan ini... Di mana ini dilukis... a ku tak tahu Sejak aku dilahirkan, sudah terpajang di rumahku Yang jelas, ada kerinduan yang amat sangat Seperti anak rindu kampung halaman Tapi aku tak tahu di mana itu Ayah bilang, itu tempat tinggalku sebelum aku dilahirkan Ah, ada satu gambar yang menarik di sana Di tengah lukisan, ada pohon besar H anya tumbuh satu buah Tiap lihat buah itu Aku selalu ingat akan apel yang kumakan tiap pagi Jakarta, 15 April 2017

15. Aku dan Aku

Aku dan Aku Aku gumpalan mimpi Dari bangun hingga tidurku Kujalani tanpa kutengok aku yang tidur pulas Semua diserahkan kepadaku, sang gumpalan mimpi Dan aku yang tidur hanya terus tidur Sampai aku menggumpal penuh dan meledak Membangunkan aku dari tidur Dan tiada pernah tidur lagi Jakarta, 30 Maret 2017

14. Syair Awan

Syair Awan Awan cuma bisa mencurahkan hujan M emang begitu adanya, bukan? Tak ada hal lain yang bisa dilakukan Selain mencurahkan hujan Dan diam terlupakan Denpasar, 10 Februari 2017

13. Aku Saksi

Aku Saksi Aku adalah saksi Atas manusia yang memarahi Tuhan Karena matahari dan bintang ditutup awan Diganti hujan Aku adalah saksi Atas Tuhan yang terseyum heran Karena Ia selalu disalahkan Tapi diminta pertolongan-Nya Oleh manusia yang terkena hujan Denpasar, 10 Februari 2017

12. Tuhan di Pesta Babi

Tuhan di Pesta Babi Tuhan datang ke pesta babi Bagaimana tidak? Ia bertugas membersihkan kotoran para babi Dan memandikan babi Betapa berat tugasnya Bukan dengan karbol Ia seka lantai Dengan air mata Betapa sengsara Ia Bukan dengan air dan sabun babi dimandikan Dengan darah... ya... darah dari para babi Ia dihina... ditendang... diusir Tapi Ia selalu datang ke sana Karena cinta? Karena cinta Tiap detik Ia datang ke pesta babi Tiap detik Ia bersihkan lantai dan dinding Tiap detik Ia mandikan para babi Barangkali Ia temukan domba yang akting jadi babi Jakarta, 24 Januari 2017

11. Merenung

Merenung Merenunglah Dari fajar menyingsing sampai kembali menyingsing Lanjutkan renungan Sampai tiba nanti Hari-hari dikau dipanggil dari diam renungmu Jakarta, 24 Januari 2017

10. Bait Awan

Bait Awan Ke mana awan bergerak Sampai nanti mereka teteskan air mata Membasahi langit, turun hingga tanah Ke mana awan bergerak Sampai akhirnya lenyap ditelan malam Digantikan setitik bintang yang rapuh Ke mana awan bergerak Sampai setiap wujud mereka Hilang seiring kita bergandengan waktu Jakarta, 21 Januari 2017

09. Memori

Memori Mereka yang kulupakan Mengadu kepada hujan Supaya ketika tanah digempurnya Aromanya bawa memori tentang aku dan mereka Lalu? Haruskah aku sedih? Haruskah aku gembira? Harus bagaimana aku? Memori hanyalah memori Tak lebih dari sejarah Yang mengantarku ke dunia baru Jakarta, 21 Januari 2017

08. Di Manakah Surga

Di Manakah Surga Di manakah surga Bila kita tak tahu Sebab apa kita bersatu Di manakah surga Bila kita tak lagi bertanya Tentang cinta antara kita Jakarta, 8 Januari 2017

07. Cerita Siang Kepada Malam

Cerita Siang Kepada Malam Ceritakan kepada malam Tentang tulisan-tulisan Yang matahari sulutkan di tubuh kita Jakarta, 12 Desember 2016

06. Ratapan

Ratapan Kita meratapi kenangan demi kenangan Dan men doakan kenangan yang akan tiba Dan entah mengapa... entah bagaimana... Kita ratapi lagi kenangan yang kit a doakan Kemudian waktu berlalu Seolah-olah ia malu Menemani kita yang meratap kaku Kenangan tak peduli ratapan Waktu tak punya waktu temani kita Dan di sinilah kita... terlalu peduli akan kenangan Hingga W aktu berbalik meratapi kita Jakarta, 8 Desember 2016

05. Aku Kecebong

Aku Kecebong Dari aku lahir Aku kecebong Sampai aku di bangku SD Aku seekor kecebong Sampai aku di bangku SMP Aku masih kecebong Sampai aku di bangku SMA Tetap saja aku kecebong Sampai aku di bangku kuliah Aku masih merasa kecebong Sampai aku mampu melahirkan kekayaan Tentu aku kecebong Sampai kelak aku bertemu dengan katak cantik Ia menikahi diriku yang kecebong Sampai anak-cucuku tumbuh jadi katak dewasa Kecebong tetaplah kecebong Sampai aku ditidurkan di bawah nisan Wujudku tetap kecebong Sampai di sana ketemu Bapak Masihkah aku kecebong? Jakarta, 15 Oktober 2016

04. Pesona Warna

Pesona Warna Jika manusia tak berwarna Tiada paham sebab tawa jadi tangis S ebab tangis jadi amarah S ebab amarah jadi tumpah darah S ebab tumpah darah kembali jadi tawa S emua itu terus berputar Sampai biru bumi tertelan warna kita Jakarta, 21 September 2016

03. Menuju

Menuju Aku burung melesat ke dasar laut Mencoba pahami air, ikan, dan terumbu Makin dalam, makin gelap, sukar melihat A ku harus terus ke bawah sampai cakarku menginjak debu Sampai sayapku minta tidur, aku harus sampai kepada arti laut Aku ikan berenang menuju matahari Mencoba pahami langit, burung, dan awan Makin tinggi, makin terang, terkadang gelap menghampiri Aku harus terus berenang sampai mataku tertutup sinar menyilaukan Ya, menuju matahari. Ekor terus kugoyang sampai ia rindu bahari Jakarta, 17 Juli 2016

02. Penunggu Pelangi

Penunggu Pelangi Se orang pria termenung di beranda Sepanjang hari ditatapnya cakrawala Sesak di dada tak buat jera Terus ia tatap wajah cakrawala Menunggu cakrawala berwajah cengeng Agar jatuh air matanya membasahi hari Supaya yang dinantikan pria itu datang Tujuh warna ajaib penyembuh hati Mungkin cakrawala sedang gembira Seolah-olah bercinta dengan surya Dan mengabaikan sang pria Namun ia tetap menatap, menunggu dengan setia Pelukis Agung berjalan menghampiri “Ceritakan kepada-Ku, agar Ku-lukis pelangi bagimu” Ia mendengar-Nya, namun bukan lukisan yang dinanti Dia pria, sangat, dan terlalu setia  menunggu Jakarta, 5 Juni 2016